Minggu, 08 Juni 2008

Mesjid Agung Pondok Tinggi




Masjid Agung Pondok Tinggi terdapat di Kota Sungai Penuh (ibu kota Kabupaten Kerinci). Masjid ini dibangun pada tahun 1874 dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Pada tahun 1890, oleh masyarakat setempat, dinding yang terbuat dari anyaman bambu tersebut diganti dengan kayu yang diukir dengan indah.

Pembangunan Masjid Agung Pondok Tinggi ditetapkan melalui musyawarah secara bersama warga Dusun Pondok Tinggi. Dari hasil musyawarah tersebut, terbentuklah panitia pembangunan masjid yang bertugas mengkoordinir pembangunan yang terdiri dari empat orang, mereka adalah Bapak Rukun (Rio Mandaro), Bapak Hasip (Rio Pati), Bapak Timah, dan Haji Rajo Saleh (Rio Tumenggung). Sementara untuk arsitektur bangunan dipercayakan kepada M. Tiru seorang warga Dusun Pondok Tinggi. Di samping itu, juga ditunjuk 12 orang tukang bangunan yang membantu mengukur, memotong, dan memilah berbagai komponen bangunan. Sementara itu, masyarakat setempat turut serta membantu pembangunan secara bergotong royong, terutama dalam menyediakan bahan-bahan untuk keperluan pembangunan. Pembangunan Masjid Agung Pondok Tinggi baru selesai secara permanen pada tahun 1902.

Keunikan masjid ini terletak pada arsitektur bangunannya. Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid di Nusantara masa lampau dengan ciri atap berbentuk tumpang berlapis tiga. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.

Keistimewaan lainnya adalah masjid ini ditopang oleh 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.

Selain itu, goresan ukiran yang terpahat dengan indah, teratur, dan rapi pada dinding-dinding masjid menambah nilai artistik. Ukiran yang terpahat pada dinding masjid kaya dengan aneka motif khas berbagai bangsa, seperti Persia, Romawi, Mesir, dan Indonesia.

Selengkapnya di Wisata Melayu

video

Jumat, 06 Juni 2008

Sekilas Tentang Kerinci

Kerinci memiliki kebudayaan dan peninggalan nenek moyang yang tiada ternilai harganya. Kerinci antara lain memiliki naskah Melayu tertua di dunia, yaitu dokumen Tanjung Tanah, sebuah tulisan huruf Pallawa yang ditulis antara tahun 1304-1436 M. Lokasi Tanjung Tanah itu berada dalam wilayah Kabupaten Kerinci.

Kerinci memiliki istiadat yang kuat dan spesifik. Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Ini pun menjadi kajian peneliti asing. Sejarah tentang Kerinci tersimpan baik di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Kerinci memiliki panorama yang indah. Gunung Kerinci dengan hamparan perkebunan teh, danau Gunung tujuh yang tertinggi letaknya di Asia Tenggara, danau Kerinci yang memiliki pemandangan yang mempesonakan, air terjun Telun Berasap, Pancuran Rayo, air terjun bertingkat, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan paru-paru dunia serta menjadi tempat bermukimnya fauna dan flora yang tidak terdapat di negara lain. Tidak salah lagi, penyair Gozali Burhan menyebutkan dalam syairnya bahwa Bumi Sakti Alam Kerinci itu laksana “sekepal tanah surga yang tercampak ke bumi”.

Dikutip dari:

Kata Sambutan Bupati Kerinci, H. Fauzi Siin, atas buku Sekepal Tanah Surga